Pages

Terlambat

Kepada merpati-merpati putih
yang hinggap di tapal batas
Kepada burung-burung gereja
yang menyulam sangkar di dahan akasia
Ingin 'ku sampaikan pada belahan rindu
untuk bersua memecah sendu
mengingat senandung klasik di Pantai Banyuwangi
atau bercengkerama tentang kelinci-kelinci putih penghuni taman

Masa hidupku tinggal sesaat
aku lupa mengambil benang lalu merajutnya kembali
aku lupa mengambil tali lalu mengikatnya di ujung yang patah

Lingkaran masa terus berputar
semuanya telah berlalu
dan semuanya akan berlalu
Tak mungkin 'ku menemukannya lagi
kepingan-kepingan terasing di lautan
sebutir biji sesawi dalam beronggok-onggok sampah
dan setetes air di gurun fatamorgana
Tiada sempurna


Dikarang pada 18 Agustus 2007

. . . . . . . . . . .

Kepada dunia,
kuceritakan resahku
Kepada lingkaran tanpa tepi,
kubuang amarahku
Kepada samudra raya,
kulempar benciku

Benci!
Benci dalam ratapku, mati!
Ada sisi gelap
tapi tak mengaku mereka kelam
Ada kerikil-kerikil tajam
tapi tetap saja ada pengingkaran

Aku marah
terbang mengitari pijar merah
membara dan membakar
Aku mati rasa
melayang-layang di atas hampa
menanti masaku usang
sia-sia!


- K O S O N G -
untuk mereka yang marah
untuk mereka yang menangis
untuk mereka yang sepi


Dikarang pada tahun 2007

Masa Lalu

Seberkas lembaran usang
membuka helaian kisah lalu
ceritakan kembali sebuah kisah
tentang kenangan yang tak terlupa
tentang aku dan ceria menuai tawa
tentang hidup dan kehidupan yang indah

Helaian terlepas dari album
gemulai terhempas angin lembut
jauhkan jarak yang takkan bersentuh
atau mungkin takkan kurengkuh

Helaian terhempas kian menjauh
seiring waktu yang terus mengalir
kelilingi lintasan jagad masa
bagai lingkaran tanpa tepi
yang jari-jarinya memutar roda bumi

Aku pun terhempas dalam kesunyian malam
di tengah teruk badai yang kian menusuk
menampar perihku terhadap kenangan
sebuah legenda kisah klasik


Dikarang 20-21 April 2007

Rendra

Kepada semak-semak belukar
yang menghuni hamparan padang hijau
Kepada ilalang-ilalang segar
yang kemayu dibelai bayu
Kusampaikan kabar mendung kepada alammu
yang masih melantunkan irama riang

Sang Burung Merak telah pergi
mengembangkan sayap emasnya
dan terbang ke ufuk pengharapan
Tahtanya kini telah sepi
disambut ajal menanti

Kupandang langit itu yang masih biru
suaranya masih lantang membahana
Bisik nuraninya kian menyentuh ruang hatiku
mengetuk perlahan
tanpa mengharap aku membukakannya

Tapi,
sang seniman hati telah pulang
Dan ratusan juta jiwa berduka
kehilangan seorang maha karya

Selamat jalan Rendra!
Terima kasih atas hatimu pada kami.

Film Indonesia Baru: Merantau

Film ini mengangkat tema pencak silat dan digarap oleh sutradara asal Inggris Gareth Huw Evans. Proses syuting ini sendiri telah dimulai pada bulan November 2008 dan dilaksanakan di dua tempat, yakni di Bukittinggi dan Jakarta. Diharapkan film ini akan menambah subgenre perfilman Indonesia. Film ini akan melibatkan sejumlah artis ternama seperti Christine Hakim, Alex Abbad, Doni Alamsyah, Iko Uwais (Atlet Pencak Silat), dan ada dua artis luar negeri yaitu Mads Kudal (Denmark) dan Laurent Buson (Perancis).

Merantau menceritakan tentang seorang pemuda Minangkabau yang melakukan perjalanan hidup agar memperoleh nama untuk dirinya. Yuda (Iko Uwais) merupakan tokoh pemuda tersebut. Ratger (Mads Kudal) akan berperan sebagai orang jahat.

Film ini sendiri sudah memakan banyak biaya dan waktu, sehingga tidak ada pilihan selain harus box office. Film ini sudah banyak dipromosikan di luar negeri, termasuk di Hongkong Film Mart. Ario Sugantara (Produser film) sudah menawarkan film ini ke beberapa festival film, termasuk Festival Film Toronto dan juga Cannes. Diakui Ario, sudah 20 tahun di Indonesia tidak mengangkat tema film aksi. Lagipula menurut Maya Evans (Istri Ario yang juga ikut bermain) menganggap ilmu bela diri Pencak Silat memiliki keunikan tersendiri. Lagipula tema ini diangkat dari seni budaya Indonesia asli. Semoga film ini berhasil di berbagai festival film internasional!

Aku

Aku luka
perih...
menutup duka
pedih...

Aku sendiri
sepi...
tanpa hal yang pasti
di sini...

Aku berjejalan di jalan setapak
berdesak penuh sesak
Dalam hati berbenak
aku bagai binatang yang terserak
dan kaku bagai kerak

Ada malaikat di atas awan
terbang sempurna dan menawan
Namun tak singgah padaku yang dalam rawan
yang tanpa berkawan
yang dengan sejuta lawan

Kuterjaga
dan kuterdiam
Menggapai bintang di ujung sana
namun itu hanya hasrat yang harus kuredam

Aku berdiri
tapi kaki tak sanggup lagi
merana sendiri

Dan setan di ujung sana
tertawa ceria melihat deritaku
dengan tongkat-tongkat perkasa
menancap dan runtuhkan bentengku

Aku luka
Aku sendiri
Aku derita
Dan mereka tak peduli

Aku...
Aku hanyalah seorang lemah
Dan dunia itu...
Dunia adalah sebuah megah

Aku dan dunia
hanyalah ilusi
Dunia dan aku
hanya imajinasi
yang takkan menyatu padu

Dan biarkan aku di sini
aku mati!
Biarkan aku mati
tuk akhiri semua derita diri

Jangan pedulikan aku lagi
karena kau tak pernah peduli
dan kau atau pun mereka takkan pernah mengerti
Karena aku di sini
hanya sendiri
biarkan aku sepi,
dan aku akan mati!



15 Maret - April 2007

Tebak Jodoh (Fiksi)

Pagi tak selamanya indah. Kadang kita bisa terjebak dalam kegalauan hati yang tidak pernah berakhir hingga petang menjemput. Setiap hari selalu kurasakan hening dan selalu hening. Tidak ada satupun jawaban dari langit malam yang datang menghampiriku. Terkadang kita bertanya pada langit, mengapa kau kelamkan hariku dan hatiku? Tapi, lupakan saja pertanyaan itu. Mungkin lebih baik dicari sendiri tanpa harus berharap langit kan menjawabnya.

"Joe, balek yok!" ajak Rio. Dia sudah bersiap-siap dari tadi di atas sepeda motornya.

"Tunggu!" sahut Leo sembari melambaikan tangan ke arah Rio. "Aku masih bisa numpang untuk hari ini, khan?" tanyanya.

"Ya, bolehlah! Ngapain pulak kuajak kau pulang kalau gak barengan? Lagipula kan kita sekos!"

Leo tersenyum. Lumayanlah, pikirnya. Setidaknya dia bisa mengirit ongkos perjalanan dua ribu rupiah setiap harinya. Cuma Riolah sohib terbaik yang pernah Leo temukan selama ini. Tapi, dia bukan bermaksud menilai pertemanan mereka dari segi untung-rugi.

******

"Mil, pinjem catatan Statistikmu, dong! Kemaren tuh aku gak dateng!" ujar Leo.

"Siapa suruh gak dateng? Begadang aja kerjanya!?" ledek Mila acuh. Yudha duduk di sebelah Mila yang sedang asyik membaca buku Harry Potter "Half Blood Prince".

"Please........." Leo memasang tampang memelas. Berlaku seperti pengemis yang meminta belas kasihan. Mila memalingkan badan. Leo pindah tempat duduk.

"Mil???"

"Ya udah, nih kukasih! Tapi besok pagi cepat-cepat kembaliin ya!" perintah Mila setengah marah.

"Oke deh!" ujar Leo sembari mencium rambut Mila. Mila kaget, tapi juga deg-degan. Pasalnya, dia sudah lama menyukai Leo. Tapi, itu semua dia pendam. Dia takut untuk menyatakannya pada Leo. Kayak cerita di sinetron-sinetron aja!

"Leo!" sapa Nadia dari jauh. Leo menoleh, menuju arah suara.

"Yap, Nad! What's up????" tanya Leo. Nadia datang menghampiri.

"Makan siang bareng, yuk!" ajaknya.

"Hmmm.... belum laper, nih!" Leo sedikit mengelak. Nadia langsung merangkul lengan Leo. Leo tak bisa mengelak.

"Oke deh..... Terserah loe ajah." Leo pasrah begitu didekap Nadia. Sebenarnya Leo bukan tipe pria playboy. Tapi dia tak bisa menyangkal bahwa dia selalu merasa deg-degan jika berada di dekat wanita, apalagi dirangkul wanita.

KumpulBlogger

Amazon.com